Lum’atul I’tiqôd [02]: Muqadimah Al-Muwwafaq


Al-Muwaffaq:

بسم الله الرحمن الرحيم
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْمَحْمُودِ بِكُلِّ لِسَانٍ، اَلْمَعْبُودِ فِي كُلِّ زَمَانٍ، اَلَّذِي لَا يَخْلُو مِنْ عِلْمِهِ مَكَانٌ، وَلَا يَشْغَلُهُ شَأْنٌ عَنْ شَأْنٍ، جَلَّ عَنْ اَلْأَشْبَاهِ وَالْأَنْدَادِ، وَتَنَزَّهَ عَنْ اَلصَّاحِبَةِ وَالْأَوْلَادِ، وَنَفَذَ حُكْمُهُ فِي جَمِيعِ اَلْعِبَادِ، لَا تُمَثِّلُهُ اَلْعُقُولُ بِالتَّفْكِيرِ، وَلَا تَتَوَهَّمُهُ اَلْقُلُوبُ بِالتَّصْوِيرِ

Bismillâhirrahmânirrahîm.
Segala puji milik Allah yang Maha Terpuji lewat setiap lisan, Yang disembah di setiap waktu, Yang tidak ada tempat manapun yang bebas dari ilmu-Nya. Dia tidak disibukkan oleh urusan demi urusan. Dia Mahatinggi dari segala bentuk keserupaan dan tandingan. Dia tersucikan dari istri dan anak. Hukum-Nya berlaku kepada seluruh hamba. Akal pikiran tidak bisa menggambarkan-Nya, tidak pula hati bisa membayangkannya dengan khayalan.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS Asy-Syûrâ [42]: 11)

لَهُ اَلْأَسْمَاءُ اَلْحُسْنَى وَالصِّفَاتُ اَلْعُلَا: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى * لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى * وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى

Dia memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia. “Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy. Milik-Nya segala di langit dan di bumi serta di antara keduanya juga di perut bumi. Jika kamu mengeraskan suara sungguh Dia mengetahui apa yang nampak dan tersembunyi.” (QS Thâhhâ [20]: 5-7)

أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا، وَقَهَرَ كُلَّ مَخْلُوقٍ عِزَّةً وَحُكْمًا، وَوَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا: يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dia menguasai seluruh makhluk dengan keperkasaan dan hikmah. Rahmat dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. “Dia mengetahui apa yang ada di depan mereka dan apa yang ada di belakang mereka dan mereka tidak bisa menjangkau ilmu-Nya.” (QS Thâhhâ [20]: 110)

مَوْصُوفٌ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ اَلْعَظِيمِ وَعَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ اَلْكَرِيم

Dia disifati dengan sifat yang ditentukan sendiri oleh-Nya di Kitab-Nya yang agung dan lewat lisan Nabi-Nya yang mulia.

Asy-Syaikh:

Al-Lum’ah banyak maknanya menurut bahasa diantaranya ialah al-bulghah (bekal) hidup dan ini adalah makna yang sesuai dengan pembahasan kitab ini. Maka makna Lum’atul ‘Itiqâd adalah bekal keyakinan yang shahih yang sesuai dengan madzhab As-Salaf ridwânullâh ‘alaihim. Dan Al-‘Itiqâd ialah ketetapan keyakinan yang pasti, jika sesuai dengan kenyataan maka benar dan jika tidak sesuai maka rusak.

Berikut kandungan yang terdapat pada muqadimah penulis:
  1. Beliau memulai muqadimahnya dengan basmallah. Hal tersebut mencontoh Kitabullah Al-‘Azhîm dan mengikuti sunnah Rasullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Makna bismillâhirrahmânnirrahîm ialah aku kerjakan sesuatu itu dengan mengharap pertolongan dan berkah dengan cara menyebut seluruh nama dari nama-nama Allah Ta’âla yang memiliki rahmat yang luas. Makna kata “Allah” adalah al-ma`lûh yakni yang diibadahi dengan penuh rasa cinta, pengagungan, penyembahan, dan kerinduan. “Ar-Rahman” bermakna Pemilik rahmat yang luas dan “Ar-Rahim” bermakna Allah mencurahkan rahmat kepada orang yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya. Perbedaan antara Ar-Rahman dan Ar-Rahim ialah Ar-Rahman kedudukannya sebagai sifat bagi-Nya sedangkan Ar-Rahim kedudukan rahmat sebagai perbuatan-Nya yang dianegerahkan kepada siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya.
  2. Sanjungan kepada Allah dengan segenap pujian dan pujian itu menyebutkan sifat-sifat yang terpuji lagi sempurna bagi-Nya. Begitupula perbuatan-perbuatan-Nya yang terpuji disertai rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya.
  3. Allah itu dipuji dengan segenap bahasa yang ada dan disembah di seluruh. Maksudnya Dia pantas dan boleh untuk dipuji dengan segenap bahasa, dan disembah di tempat mana pun juga.
  4. Luasnya ilmu Allah. Tidak ada yang tersembunyi dari ilmu-Nya, kekuasaan dan lingkupan ilmu-Nya yang Mahasempurna sehingga tidak satu pun urusan dapat melalaikan-Nya terhadap urusan yang lain.
  5. Keagungan, kebesaran, dan ketinggian yang dimiliki-Nya merupakan kesempurnaan sifat-Nya dari segala sisi. Tidak ada yang sepadan dengan-Nya.
  6. Allah Yang Mahasuci, tidak memiliki istri dan anak, dikarenakan Dia Mahasempurna dalam kecukupan-Nya tidak butuh kepada yang lain.
  7. Kesempurnaan kehendak dan kekuasaan-Nya sehingga seluruh keputusan-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya pasti terlaksana. Maka tidak ada satu kekuatan raja pun atau kekuatan sejumlah orang dan harta yang sanggup menolak keputusan-Nya.
  8. Keagungan Allah jauh di atas semua yang bisa dibayangkan, sehingga akal tidak akan mampu untuk membayangkan dan memikirkan gambaran yang serupa dengan Allah, karena tidak ada yang sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah Yang Maha Mendengar Maha Melihat.
  9. Allah memiliki nama-nama yang husna dan sifat-sifat yang luhur, yang khusus bagi-Nya.
  10. Allah beristiwa’ di atas ‘arsy. Maksudnya Dia menetap dan berada di atasnya sesuai dengan keluhuran dan keagungan-Nya.
  11. Allah adalah Pemilik langit dan bumi serta seluruh makhluk yang berada di antara keduanya dan yang ada di bawah tanah.
  12. Ilmu Allah sangat luas, agung kekuasaan-Nya, dan hukum-Nya tak tertandingi. Pengetahuan makhluk tidak akan sanggup menjangkaunya, karena keterbatasan kemampuan mereka untuk menjangkau apa yang menjadi hak bagi Allah berupa sifat-sifat kesempurnaan yang agung.
Sumber: Syarh Lum’atul I’tiqâd Al-Hâdîy ilâ Sabîlir Rasyâd. Penerbit Mu`asasah Ar-risalah dan Maktabah Ar-Rosyd.

Dialihbahasakan secara bebas oleh Abu ‘Aashim Doudou. 5 Rabi’ul Awwal 1440.

Posting Komentar

0 Komentar