Segala puji bagi Allah yang telah mengutus rasul terakhir, dialah Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat tentang wajibnya mencintai dan mengagungkan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kecintaan dan pengagungan terhadap seluruh makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali ‘Imran [3]: 31).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menafsirkan ayat ini berkata,

“Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/477)

Lalu bagaimana hakikat cinta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam? Imam al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata,

“Ketahuilah, bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya.

Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang utama adalah (dengan) meneladani Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit.” (Lihat, Asy-Syifâ` Bita’rîfi Huqûqil Mushthafa, 2/24)

Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah dengan meneladani petunjuk dan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan berusaha mempelajari dan mengamalkannya dengan baik. Inilah hakikat cinta kepadanya.

Dan bukanlah mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah dengan mengatasnamakan cinta kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau memuji dan mensifati Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berlebihan, dengan menempatkan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kedudukan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tempatkan beliau padanya. ( Lihat, Mahabbatur Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam Bainal Ittibâ’ Wal Ibtidâ hal. 65-71)
Aduhai para pecinta ...
Jika kalian mencinta Rasul
Muliakanlah Beliau dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya
Sebaik-baik melaksanakan perintahnya ialah menegakkan sunnahnya
Dan sebaik-baik menjauhi larangannya ialah tidak berbuat bid'ah
9 Rabi'ul Awwal 1440
Abu 'Aashim Doudou