(9-10) Iman kepada 'Arsy dan Kursi


9. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala bersemayam di atas 'Arsy-Nya, jauh terpisah dari makhluk-Nya. Bersemayam-Nya Allah adalah bersemayam yang sesuai dengan keluhuran-Nya. Bersemayamnya Al-Khaliq jelas tidak seperti bersemayamnya makhluk. Kata-kata bersemayam (istiwa'), menurut bahasa Arab maknanya sudah jelas, sedangkan tentang bagaimana hakikat bersemayam bagi Dzat Allah adalah perkara yang tidak diketahui. Sebab Allah 'Azza wa Jalla tidak memberitahukan kepada kita tentang hakikat bersemayam-Nya itu. Karenanya kita tidak boleh membayang-bayangkan menurut bayangan yang kita khayalkan. Mengimani bahwa Allah bersemayam di atas 'Arsy adalah wajib, sedangkan bertanya tentang bagaimana hakikat bersemayam-Nya adalah bid'ah. Begitu pula (sikap) terhadap semua sifat dan perbuatan Allah lainnya. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (artinya),

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS Asy-Syu'ara : 11)

Pada ayat yang lain Allah juga berfirman (artinya),

"Maha Suci Rabbmu, Rabb Yang Maha Perkasa dari apa yang mereka sifatkan." (QS Ash-Shâfât : 180)

"Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS Al-Ikhlas : 4)

"Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?." (QS Maryam : 65)

10. Mengikrarkan adanya 'Arsy dan Kursi sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah, dan sesuai dengan apa yang diyakini oleh para Salaf.

Sumber:
As-Sirâj Al-Wahhaj fî Bayân Al-Minhâj. Penulis Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail as-Sulaimani al-Ma'ribi. Penerbit Maktabah Al-Furqan, Ajman. Edisi Indonesia Pancaran Cahaya Manhaj Salaf. Penerjemah Ahmas Faiz Asifuddin. Penerbit Pustaka Imam Bukhari, Solo.

Posting Komentar

0 Komentar