(2-8) Tauhid Asma wa Sifat


2. Menetapkan bagi Allah 'Azza wa Jalla apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri tetapkan bagi diri-Nya, atau Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah tetapkan bagi Allah, berupa nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan Allah tanpa tahrif (mengubah lafal atau maknanya), tanpa ta'thil (menolaknya), dan tanpa tamtsil (memberikan penyerupaan).

3. Meniadakan segala apa yang ditiadakan sendiri oleh Allah 'Azza wa Jalla dari diri-Nya, atau ditiadakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari diri Allah. Inilah pensucian terhadap Allah menurut pengikut jalan yang lurus. Bukan pensucian model Ahli Ta'thil (orang yang menolak sifat Allah) dan Ahli Takhyil[1], atau Ahli Tajhil, dan Ahli Tadhlif[2].

4. Berakidah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Al-Awwal (Dzat yang memiliki sifat pertama), tidak ada sesuatupun sebelum-Nya; Dia Al-Akhir (Dzat yang memiliki sifat akhir), tidak ada sesuatupun sesudah-Nya; Dia Azh-Zhahir (Dzat yang Maha Zhahir), tidak ada sesuatupun yang di atas-Nya; Dia adalah Al-Bathin (Dzat yang Maha Bathin), tidak ada sesuatupun yang di bawah-Nya. (Dia Maha meliputi segala sesuatu dan Dia ada di atas segala sesuatu. Sementara makhluk-Nya tidak mempunyai kemampuan untuk meliputi segala sesuatu).

5. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Al-Khaliq (Dzat yang Maha memiliki sifat mencipta) sejak sebelum adanya makhluk ciptaan-Nya. Dan Dia adalah Ar-Razzaq (Dzat yang Maha memiliki sifat memberi rezeki) sejak sebelum adanya rizki. Maka Dia memiliki sifat-sifat Maha Tinggi, memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang sangat indah) dan memiliki sifat paling sempurna.

6. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Al-'Álim (Maha Mengetahui) dengan ilmu, Al-Qâdir (Maha Kuasa) dengan qudrah (kekuasaan), Al-Hayyun (Maha Hidup) dengan sifat hayat (hidup), Al-Murîd (Maha Berkehendak) dengan sifat iradah, As-Samí' (Maha Mendengar) dengan pendengaran, Al-Bashîr (Maha Melihat) dengan penglihatan, dan Al-Mutakallim (Maha Berbicara) dengan perkataan (kalam). Begitu pula semua sifat lain yang jelas merupakan sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala, saya meyakininya sesuai dengan keyakinan Ahlussunnah, dan berbeda dengan pemahaman Ahli Ta'thil dan Ahli Tahrif.

7. Setiap apa yang terbayang dalam pikiran atau tergambar dalam benak (tentang Allah), maka Allah 'Azza wa Jalla lebih Tinggi dan Luhur. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya),

"Dan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." (QS Thahha : 110)

8. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Suci dari sesuatu yang mewajibkan-Nya, atau dari suatu keharusan yang mamaksa-Nya. Kecuali bila Dia sendiri yang mewajibkan kepada diri-Nya sendiri sebagai karunia dan rahmat dari-Nya.

Footnote:
[1] Yaitu orang-orang yang menganggap bahwa para nabi ketika menceritakan tentang Allah, hari Akhir, Surga, Neraka, dan bahkan tentang malaikat tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Mereka berbicara kepada umat tentang itu semua berdasarkan daya khayal mereka sendiri. Daya khayal dusta -yang menurut mereka- untuk kemashlahatan umat. Dan itu adalah pernyataan bathil dan kufur.
[2] Yaitu orang-orang yang menuduh bahwa para nabi beserta pengikutnya adalah orang-orang bodoh dan sesat, tidak memahami makna sifat-sifat Allah yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur`an bahkan para nabi tidak memahami perkataan-perkataan mereka sendiri ketika menceritakan tentang sifat Allah. Sehingga tidak ada yang mengetahuinya termasuk para nabi (ini jelas perkataan bathil dan kufur).

Sumber:
As-Sirâj Al-Wahhaj fî Bayân Al-Minhâj. Penulis Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail as-Sulaimani al-Ma'ribi. Penerbit Maktabah Al-Furqan, Ajman. Edisi Indonesia Pancaran Cahaya Manhaj Salaf. Penerjemah Ahmas Faiz Asifuddin. Penerbit Pustaka Imam Bukhari, Solo.

Posting Komentar

0 Komentar