'Umdatul Fiqhi [02]: Bab Hukum-Hukum Air Bag. 1


Al-Muwwafaq:

كتاب الطهارة

Kitab Thoharoh

باب أحكام المياه

Bab Hukum-Hukum Air

Abu ‘Aashim:
Kitâb merupakan bentuk mashdar yang artinya al-Jam’u, mengumpulkan. Maksudnya ialah kumpulan tulisan dalam masalah thoharoh. Para ulama memulai masalah fiqih ini dengan thoharoh. Karena thoharoh merupakan hal yang ditekankan dalam rukun Islam setelah dua kalimat syahadat, yakni shalat. Sebab thoharoh sebagai syarat dari shalat. Dan yang namanya syarat harus didahulukan daripada yang disyaratkan. (Syarh Muntahâ Al-Irôdât, 1/19)

Thoharoh secara bahasa ialah membersihkan atau menyucikan dari kotoran. Sedangkan secara istilah adalah tindakan menghilangkan hadats atau najis yang menghalangi shalat dengan menggunakan air, atau menghilangkan hukumnya dengan tanah yang baik. (Al-Mughni, 1/12)

Thoharoh memiliki dua pengertian,
Pertama: asal, yakni thoharoh (bersih)nya hati dari syirik dalam ibadah kepada Allah; dengki dan marah kepada hamba Allah yang beriman. Ini yang paling penting daripada thoharoh badan. Karena tidak mungkin tercapai thoharoh badan bersamaan dengan adanya najis yakni kesyirikan.
Kedua: cabang, yakni thoharoh hissiyyah. (Syarhul Mumti’, 1/25)

Thoharoh hissiyyah disebut juga thoharoh badan. Inilah yang menjadi pembahasan dalam ilmu fiqih. Adapun thoharoh ma’nawiyyah menjadi pembahasan ilmu tauhid atau akidah.

Al-Muwaffaq:

خُلق الماء طهورا 
Air diciptakan dalam keadaan suci dan menyucikan (thahûr).

Abu ‘Aashim:
Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman,

وَيُنزلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

Dan Allah menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk menyucikan kalian dengan hujan itu.” (QS Al-Anfâl [8]: 11)

Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wa sallâm bersabda,

اللهم طهرني بالماء و الثلج و البرد

Ya Allah, sucikanlah aku dengan air, salju, dan embun.” (Shahih. HR Al-Bukhari dan Muslim dalam Al-‘Uddah Syarhul ‘Umdah, hlm. 13; dan Syarh Al-‘Umdatul Fiqh, 1/7).

Al-Muwwafaq:

يُطهر من الأحداث والنجاسات

Digunakan untuk bersuci dari hadats dan najis.

Abu ‘Aashim:
Hadats ialah sifat yang ada pada badan yang dapat menghalangi seseorang dari shalat dan selainnya yang disyaratkan thoharoh terlebih dahulu untuk menghilangkannya.

Najis ialah kotoran yang tetap secara syar’i yang menghalangi seseorang yang hendak shalat dari shalatnya yang hal ini bisa ada pada badan, pakaian, dan tempat shalatnya. (Syarh Al-‘Umdatul Fiqh, 1/7)

Al-Muwaffaq:

فلا تحصُل الطهارة بمائع غيره

Maka tidaklah sampai maksud bersuci dengan benda cair selain air.

Abu ‘Aashim:
Yang dimaksud dengan ‘benda cair selain air’ di sini ialah seperti cuka, kaldu, nabidz, air mawar, perasan dari pohon, dan sejenisnya; semua itu tidak bisa menghilangkan hadats dan najis.

Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman,

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيداً طَيِّباً

 “Kemudian (jika) kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamamumlah dengan tanah yang baik (suci).” (QS An-Nisâ` [4]: 43)

Firman Allah ‘Azza wa Jalla di atas bagi orang yang hendak menyucikan dirinya dari hadats ketika tidak ada air, maka boleh ia menggantinya dengan tanah yang baik. Adapun bagi orang yang hendak menyucikan najis maka dia harus menggunakan air sebagaimana perintah Nabi shollallôhu ‘alaihi wa sallâm kepada Asma` rodhiyallâhu ‘anha dalam membersihkan darah haidh,

Keriklah, kemudian gosoklah, kemudian cucilah dengan air.” (Shahih. HR Ibnu Majah, no. 629 dalam Al-‘Uddah Syarhul ‘Umdah, hlm. 13).

Sebagian ahlu ‘ilmi mengatakan bahwa jika najis tersebut dapat hilang dengan air, benda cair (pemutih, sabun cair, dsb.), terkena panas sinar matahari, dihembuskan oleh angin, tanah, digosok, atau lainnya yang hal tersebut mampu menyucikan suatu tempat dari najis maka tidak masalah untuk digunakan. (Lihat Syarh Al-‘Umdatul Fiqh, 1/8)

Al-Muwwafaq:

فإذا بلغ الماء قلتين أو كان جاريا لم يُنجسه شيء ، إلا ما غير لونه أو طعمه أو ريحه

Jika air itu sampai dua qullah atau air tersebut mengalir, maka air tersebut tidak dapat dinajiskan oleh apapun kecuali berubah warna, rasa, dan baunya.

Abu ‘Aashim:
Bahwasanya air jika sampai dua qullah atau mengalir seperti mata air yang mengalir dan sungai tidak dapat menjadi najis jika bercampur dengan najis jika tidak berubah dengannya warna, rasa, dan baunya.

Dalil tentang air dua qullah tidak menjadi najis jika tidak berubah salah satu dari tiga sifat air yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi shollallôhu ‘alaihi wa sallâm ketika ditanya tentang air yang diminum oleh hewan ternak dan hewan buas, Beliau shollallôhu ‘alaihi wa sallâm bersabda,

إذا كان الماء قلتين لم ينجسه شيء

Jika air itu dua qullah tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu apapun juga.” (Dhaif. HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dll. lihat Syarh Al-‘Umdatul Fiqh, 1/11)

Dalil atas bahwasanya air mengalir itu tidak dapat menjadi najis yakni ketika Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wa sallâm ditanya tentang sumur Budho’ah yang dimana di sumur tersebut dilemparkan darah haidh, daging anjing, dan berbau busuk, maka Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wa sallâm bersabda,

إن الماء طهور لا ينجسه شيء

Sesungguhnya air itu suci tidak dinajiskan oleh sesuatu apapun.” (Shahih. HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai` dll. dishahihkan oleh Ahmad, Ibnu Mu’in, Ibnu Hazm, An-Nawawi, dan Ibnu Taimiyah. At-Tirmidzi menghasankannya lihat Syarh Al-‘Umdatul Fiqh, 1/12)

Baha'uddin Al-Maqdisi al-Hanbali penulis Al-‘Uddah Syarhul ‘Umdah (hal. 14) menyampaikan bahwa hadits tentang sumur Budho’ah ialah hadits yang paling shahih dalam pendalilan masalah ini sebab hadits dua qullah itu dhaif dan lemah pada sisi pendalilannya. Hal ini pun disampaikan secara panjang lebar dalam Syarh Al-‘Umdatul Fiqh (1/10).  Jadi, sedikit maupun banyaknya air, dua qullah maupun tidak, ketika berubah salah satu dari tiga sifat air maka air tersebut menjadi najis.

Maka air tersebut tidak dapat dinajiskan oleh apapun kecuali berubah warna, rasa, dan baunya.
Inilah yang tepat. Bahwa air itu jika berubah salah satu dari ketiga sifatnya maka menjadi najis. Ini adalah ijma’ para ulama. (Lihat, Syarh Al-‘Umdatul Fiqh, 1/12)

Al-Muwwafaq:


وما سوى ذلك يَنجُسُ بمخالطة النجاسة

Selain itu air dapat menjadi najis dengan sebab tercampur dengan benda najis.

Abu ‘Aashim:
Maksudnya jika air itu jika tidak sampai dua qullah atau tidak mengalir maka menjadi najis jika bercampur dengan benda najis walaupun tidak berubah warna, rasa, atau baunya. Dalilnya ialah

إذا كان الماء قلتين لم ينجسه شيء

Jika air itu dua qullah tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu apapun juga.” (Dhaif. HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dll. lihat Syarh Al-‘Umdatul Fiqh, 1/11)

Yang dapat dipahami berdasarkan dzhohir hadits di atas ialah jika air tersebut kurang atau tidak mencapai dua qullah lalu terdapat benda najis di dalamnya, maka air tersebut menjadi najis.

Dan sebagian ulama berpendapat bahwa air itu tidaklah menjadi najis kecuali berubah salah satu dari sifatnya yakni warna, rasa, atau baunya walaupun itu sedikit. Mereka berdalil dengan hadits Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallôhu ‘anhu, dia berkata: “Ya Rasulullah, apakah boleh berwudhu dengan air dari sumur Budho’ah? -di sumur tersebut dilemparkan darah haidh, daging anjing, dan berbau busuk- maka Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wa sallâm bersabda,

إن الماء طهور لا ينجسه شيء

Sesungguhnya air itu suci tidak dinajiskan oleh sesuatu apapun.” (Shahih. HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai` dll. dishahihkan oleh Ahmad, Ibnu Mu’in, Ibnu Hazm, An-Nawawi, dan Ibnu Taimiyah. At-Tirmidzi menghasankannya lihat Syarh Al-‘Umdatul Fiqh, 1/12)

Pendapat kedua inilah pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran. (Lihat Syarh Al-‘Umdatul Fiqh, 1/13-14)

Al-Muwwafaq:

والقلتان ما قارب مائة وثمانية أرطال بالدمشقي

Dan ukuran dua qullah itu sekitar 108 liter Damaskus.

Abu ‘Aashim:
Ukuran dua qullah:
108 liter Damaskus menurut Al-Muwaffaq dalam matan ini.
500 liter Irak menurut Baha’uddin Al-Maqdisi penulis Al-‘Uddah.
400 liter menurut Imam Ahmad bin Hanbal. (Lihat Al-‘Uddah Syarhul ‘Umdah, hal. 10)
Para ulama kontemporer mengatakan 307 liter, 270 liter, dan sebagian mengatakan 204 kilogram. (Lihat Syarh Al-‘Umdatul Fiqh, hal. 15 pada catatan kaki)

Bersambung insyaallah ...

17 Muharrom 1440
Abu ‘Aashim Doudou

Posting Komentar

0 Komentar