'Umdatul Fiqhi [01]: Pendahuluan


Kitab Al-‘Umdatul Fiqhi ‘ala Madzhab Al-Imâm Ahmad ibn Hanbal merupakan kitab untuk para pemula dalam mempelajari fiqih Hanabilah. Kitab ini berisi permasalahan-permasalahan fiqih menurut satu pendapat dalam Madzhab Hanbali. Dalam kitab ini, Al-Muwaffaq Al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rohimahullôhu tidak menyebutkan banyak dalil, tetapi hanya menyebutkan beberapa dalil saja. Diharapkan, orang yang mempelajari kitab ini akan menguasai pengetahuan dasar tentang fiqih secara utuh pada semua bab pembahasan fiqih.

Kitab ini kami bacakan di majelis kami sebulan sekali dengan syarhnya merujuk kepada Al-‘Uddah Syarhul ‘UmdahSyarh ‘Umdatul Fiqhi, dan lainnya. Insyaallah, dalam blog ini akan kami suguhkan penjelasan ringkasnya secara berseri. Kami akan menuliskan matan dari penulis dengan “Al-Muwaffaq” lalu matannya. Kemudian di bawah matan penjelasan ringkas dari kami yang kami tulis dengan “Abu ‘Aashim”. Semoga ini menjadi pemberat timbangan amal kebaikan di akhirat kelak, âmîn.

Kita mulai dengan muqaddimahnya.

Al-Muwaffaq:

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Abu ‘Aashim:
Al-Muwaffaq rohimahullôhu  memulai kitabnya dengan basmallah untuk mengikuti Kitabullah, Al-Qur`an; karena Al-Qur`an dimulai dengan basmallah. Penulis pun mengamalkan hadits,

كلّ أمر ذي بال لا يُبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أقطع

Setiap perkara yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah maka ia terputus.” (Hasan. HR Ibnu Hibban dari dua jalan. Berkata Ibnu Shalah: “Hadits ini hasan.” Dan dihasankan juga oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkâr dan Al-‘Iraqi serta Ibnu Hajar. Lihat Fathul Majîd hal. 9)

Penulis juga mencontoh perbuatan Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wa sallâm, sebab Beliau shollallôhu ‘alaihi wa sallâm selalu mengawali tulisan dalam surat-suratnya dengan basmallah.

Setidaknya ada dua faedah memulai sesuatu dengan basmallah:
1. Mengharap berkah kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla dengan menyebut nama-Nya.
2. Untuk pembatasan memohon pertolongan itu hanya kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla saja.

(الله ) Allah adalah nama untuk Sang Pencipta, Yang Maha Agung lagi Maha Luhur. Allah adalah pemilik Uluhiyyah dan Rubbubiyyah atas seluruh makhluknya. Yang dicintai dengan penuh rasa pengagungan dan ketundukan

(الرحمن ) Ar-Rohmân adalah salah satu nama yang dikhusukan bagi Allah, tidak boleh digunakan untuk menyebut selain-Nya. Ar-Rohmân berarti Yang memiliki sifat kasih sayang yang luas.

(الرحيم ) Ar-Rohîm adalah nama yang bisa digunakan untuk menyebut Allah maupun selain-Nya. Makna Ar-Rohîm adalah Yang memiliki sifat kasih sayang yang terus-menerus. Yang memiliki sifat kasih sayang kepada siapa saja diantara hamba-Nya yang dikehedaki-Nya.

Al-Muwaffaq:

الحمد لله أهل الحمد ومستحقه، حمداً يفضل على كل حمد، كفضل الله على خلقه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادة قائم بحقه، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله غير مرتاب في صدقه، صلى الله عليه وسلم وصحبه وسلم ما جاد سحاب بودقه، وما رعد برقه.

Segala puji bagi Allah yang memiiki pujian dan berhak mendapatkan pujian. Pujian utama bagi-Nya di atas seluruh pujian, seperti keutamaan Allah atas semua makhluk-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kesaksian sebenar-benarnya hanya diperuntukkan bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  adalah hamba dan utusan-Nya yang tidak diragukan lagi kejujurannya. Shalawat dan salam selalu tercurahkan baginya dan atas keluarga serta para sahabatnya selama awan masih menurunkan hujan dan gemuruh yang menyertai petir.

Abu ‘Aashim:
(الحمد لله ) Merupakan pujian dan sanjungan yang ditujukan sebagai bentuk pengagungan kepada-Nya.

(أشهد أن لا إله إلا الله ) Maknanya yang benar ialah aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata. Dalam kalimat ini mengandung dua rukun yaitu itsbat yaitu menetapkan hanya Allah semata sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar, dan nafyu yaitu menafikan sesembahan lain selain-Nya.

(وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ) Ini merupakan persaksian bahwa Rasulullah Muhammad shollallôhu ‘alaihi wa sallâm itu hanyalah hamba dan rasul-Nya. Maka barangsiapa yang mengangkat kedudukan Beliau shollallôhu ‘alaihi wa sallâm di atas apa yang tidak ditetapkan secara nash, maka ini tindakan melampaui batas dan berlebih-lebihan.

(صلى الله عليه وسلم ) Berkata sebagian para ulama, “Shalawat dari Allah menunjukan rahmat, dari malaikat menunjukan permohonan ampun, dan dari manusia menunjukan doa.”

Al-Muwaffaq:

أما بعد: فهذا كتاب في الفقه، اختصرته حسب الإمكان، واقتصرت فيه على قول واحد، ليكون عمدة لقارئه، فلا يلتبس الصواب عليه باختلاف الوجوه والروايات.

Amma ba’du,
Ini merupakan kitab tentang fiqih. Aku telah meringkasnya sesuai kemampuan yang aku miliki. Aku meringkasnya dengan hanya menyebutkan satu pendapat saja agar menjadi pegangan bagi orang yang membacanya. Sehingga kebenaran yang ada tidak tercampur dengan banyaknya pendapat dan riwayat.

سألني بعض إخواني تلخيصه، ليقرب على المعلمين، ويسهل على الطالبين، فأجبته إلى ذلك، معتمداً على الله سبحانه في إخلاص القصد لوجهه الكريم، والمعونة على الوصول إلى رضوانه العظيم، وهو حسبنا ونعم الوكيل.

Sebagian ikhwah telah memintaku untuk membuat ringkasan (dalam masalah fiqih) agar mudah untuk dipelajari dan mudah dihafal oleh para penuntut ilmu. Maka akupun menyanggupinya dengan bersandar memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberikan niat yang ikhlas agar mendapatkan pahala melihat wajah-Nya dan meraih keridhaan-Nya yang agung. Dan hanya Allah-lah sebaik-baik penolong.

وأودعته أحاديث صحيحة تبركاً بها، واعتماداً عليها، وجعلتها من الصحاح، لأستغني عن نسبتها إليها.

Dalam kitab ini, aku hanya mencantumkan hadits-hadits yang shahih saja karena mengharap keberkahan darinya dan menjadikannya patokan hukum. Sehingga aku tidak peru lagi menjelaskan sumber-sumbernya.

Abu ‘Aashim:
Al-Muwaffaq memiliki empat karya tulis dalam bidang fiqih yang saling berurutan. Yang pertama ‘Umdatul Fiqh inilah yang paling ringkas, Al-Muqni’ dalam kitab ini beliau menyebutkan dua pendapat dalam madzhab tetapi tidak disertai dalil, Al-Kâfi lebih luas dari kitab yang kedua karena menyebutkan dalil dan alasan dari masing-masing pendapat, dan Al-Mughni kitab yang luas dalam membahas permasalahan fiqih karena kitab ini merupakan kitab fiqih perbandingan madzhab.

Inilah yang seharusnya dilakukan oleh penuntut ilmu dalam belajar fiqih yaitu dari yang ringkas terlebih dahulu agar pondasi keilmuannya kokoh. Barulah menapak jenjang berikutnya. Jangan terbalik sebagaimana fenomena sebagian penuntut ilmu di zaman sekarang. Mereka langsung belajar fiqih muqoronah sehingga dia tidak memiliki pondasi yang kokoh dalam fiqihnya.

Bersambung insyaallah ...

14 Muharrom 1440
Abu ‘Aashim Doudou

Posting Komentar

0 Komentar