Al-Kabâir [01]: Pendahuluan


Penulis yakni Asy-Syaikh Al-Imam Al-Hafizh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi asy-Syafi'i -semoga Allah mengampuninya- membuka kitabnya dengan basmallah lalu memohon kepada-Nya agar Dia senantiasa memudahkan dan memberikan pertolongan kepadanya. Kemudian beliau rohimahullôh berkata,

“Segala puji bagi Allah atas keimanan kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, para malaikat-Nya, dan takdir-Nya. Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada nabi kita Muhammad shollallôhu ‘alaihi wa sallâm, keluarganya, dan para penolongnya; yang hal ini dapat mengantarkan kita ke kampung keabadian di sisi-Nya.

Ini merupakan kitab yang bermanfaat dalam mengetahui dosa-dosa besar secara umum dan terperinci. Semoga Allah memberikan kemampuan untuk menjauhinya berdasarkan rahmat-Nya.”

Allah Ta’âla berfirman,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian (dosa-dosa kalian yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” (QS An-Nisâ` [4]: 31)

Berdasarkan nash ini, Allah Subhânahu wa Ta’âla telah menjamin Surga bagi orang-orang yang menjauhi dosa besar.

Allah Ta’âla berfirman,

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji; dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf.” (QS Asy-Syûrô [47]: 37)

Allah Ta’âla berfirman,

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya.” (QS An-Najm [53]: 32)

Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wa sallâm bersabda,
Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke shalat Jum’at, dan puasa Ramadhan ke puasa Ramadhan merupakan pelebur dosa disela-selanya, jika dosa-dosa besar tidak dilakukan.” (Shahih. HR Muslim, no. 232; At-Tirmidzi, no. 214; dan Ahmad, 2/359 dan 400; Ibnu Majah, no. 1086; Abu Awanah, 2/20; Ath-Thayalisi, no. 2470; Ibnu Khuzaimah, no. 314 dan 8114; Ibnu Hibban, no. 1733; Al-Baihaqi dalam As-Sunan, 2/466, 467 dan 10/187; semuanya dari hadits Abu Hurairah rodhiallôhu ‘anhu).

Imam Adz-Dzahabi rohimahullôh mengatakan:
“Hal ini mendorong kami untuk meneliti tentang apa saja yang termasuk dosa-dosa besar agar kita dan kaum Muslimin menjauhinya. Para ulama berbeda pendapat tentang jumlahnya, sebagian diantara mereka ada yang mengatakan bahwa dosa-dosa besar itu ada tujuh. Mereka berhujjah dengan hadits Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wa sallâm berikut ini,

Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang merusak!” Lalu Beliau shollallôhu ‘alaihi wa sallâm menyebutkan: “Syirik, sihir, membunuh, memakan harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri ketika peperangan, dan menuduh wanita baik-baik berzina.” (Shahih. HR Al-Bukhari, no. 2766 dan 5764; dan Muslim, no. 89).

Dan telah datang keterangan dari Sahabat Abdullah bin Abbas rodhiallôhu Ta’âla ‘anhumâ, beliau berkata: “Dosa-dosa besar itu lebih dekat jumlahnya kepada tujuh puluh macam daripada tujuh macam saja.” Dan demi Allôh, benarlah Ibnu Abbas rodhiyallôhu ‘anhumâ.

Hadits sebelumnya tidaklah membatasi jumlah dosa-dosa besar. Pendapat yang benar, yang dibangun di atas dalil bahwa orang-orang yang melakukan dosa yang ada hukuman haddnya di dunia –seperti membunuh, zina, dan mencuri–; atau adanya ancaman di akhirat dengan bentuk adzab, murka dan peringatan keras; atau pelakunya dilaknat melalui lisannya shollallôhu ‘alaihi wa sallâm; maka semuanya itu termasuk dosa-dosa besar. Semoga kita selamat darinya.

Perlu diketahui bahwa sebagian dosa-dosa besar lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar yang lain. Tidakkah engkau perhatikan bahwa Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wa sallâm menggolongkan perbuatan syirik kepada-Nya sebagai bagian dari dosa-dosa besar. Padahal pelakunya kekal di neraka dan tidak diampuni selamanya.

Allah Ta’âla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Sesungguhnya Allôh tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS An-Nisâ` [4]: 116)

Allah Ta’âla berfirman,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allôh, maka pasti Allôh mengharamkan kepada¬nya surga.” (QS Al-Mâ`idah [5]: 72)

Maka harus menjamak diantara nash-nash yang ada.

Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wa sallâm bersabda,
Maukah kalian aku beri tahu dosa-dosa besar yang paling besar?” Beliau shollallôhu ‘alaihi wa sallâm bertanya tiga kali. Para Sahabat menjawab, “Tentu ya Rasulullah!” Beliau shollallôhu ‘alaihi wa sallâm bersabda, “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada orangtua.” Ketika mengucapkan ini Beliau shollallôhu ‘alaihi wa sallâm berbaring, lalu Beliau shollallôhu ‘alaihi wa sallâm duduk lantas bersabda, “Dan ketahuilah termasuk juga kesaksian palsu.” Beliau shollallôhu ‘alaihi wa sallâm terus mengulanginya sehingga kami mengatakan, “Semoga Beliau berhenti.” (Shahih. HR Al-Bukhari, no. 2654; Muslim, no. 87; At-Tirmidzi, no. 1901, dan Ahmad, 5/36 dan 38. Semuanya dari hadits Abi Bakrah rodhiyallâhu ‘anhu).

Maka Beliau shollallôhu ‘alaihi wa sallâm menjelaskan bahwa persaksian palsu itu salah satu dosa besar yang paling besar. Dan tidak disebutkan dalam hadits bahwa hal tersebut termasuk ke dalam tujuh perkara yang termasuk dosa-dosa besar yang telah disebutkan di atas, begitupula durhaka kepada kedua orangtua."

10 Muharrom 1440
Selesai muqoddimah dari kitab Al-Kabâir penerbit Dâr Al-Kitâb Al-Arôbi, Beirut.
Dialihbahasakan secara bebas oleh hamba Allôh Abu 'Aashim Doudou. Asal tulisan ini merupakan transkrip kajian yang kami ampu untuk karyawan di sebuah pabrik di daerah kami.

Posting Komentar

0 Komentar