Lum’atul I’tiqôd [01]: Pendahuluan


Lum’atul I’tiqôd Al-Hâdîy ilâ Sabîlir Rosyâd merupakan kitab tentang ‘aqidah Ahlussunnah wal Jamâ’ah yang ditulis oleh Al-Muwaffaquddin ‘Abdillah bin Ahmad bin Qudâmah al-Maqdisi al-Hanbali rohimahumullôh (selanjutnya ditulis Al-Muwaffaq), murid dari Al-‘Allamah Asy-Syaikh Abdul Qôdir al-Jailâni al-hanbali rohimahullôh. Kitab ringkas yang disusun untuk pemula dalam menapaki ilmu ‘aqidah, yang seyogyanya para penuntut ilmu menelaahnya dengan baik sehingga memiliki pondasi yang kuat dalam masalah ini.

Pada blog ini, akan kami suguhkan terjemah atas syarh kitab ini yang ditulis oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahumullôh (selanjutnya ditulis Asy-Syaikh). Syarh ini kami bacakan di majelis kami setiap sebulan sekali, insyaallah, lalu kami publikasikan di blog pribadi kami agar manfaatnya tersebar bagi kaum muslimin. Semoga ini menjadi tabungan amal sholih di akhirat nanti, âmîn.

Sebelum memulai menjelaskan kitab Lum’atul I’tiqôd, Asy-Syaikh menyampaikan terlebih dahulu muqoddimah tentang kaidah-kaidah secara ringkas dalam memahami asma dan sifat Allah ‘Azza wa Jalla. Untuk mengetahui kaidah-kaidah tersebut secara mendalam, Asy-Syaikh memiliki kitab yang bagus dalam masalah ini yang berjudul Al-Qowâ`idul Mutsla fi Shifâtillâhi wa Asmâihil Ḥusnâ. Maka hendaklah merujuk ke kitab tersebut beserta syarhnya yang ditulis oleh beliau juga.

Secara global kaidah-kaidah tersebut ialah tentang:
Pertama, sikap yang semestinya kita ambil dalam menyikapi nash terkait asma dan sifat Allah.
Kedua, ketentuan terkait asma Allah itu ada empat hal.
Ketiga, ketentuan terkait sifat Allah ada empat hal juga.
Keempat, ini yang terakhir yaitu bagaimana cara membantah orang-orang yang mengingkari asma dan sifat Allah.

KAIDAH PERTAMA
Bagaimana menyikapi nash-nash Al-Qur`ân dan As-Sunnah dalam masalah asma dan sifat Allah ‘Azza wa Jalla? Jawabannya ialah sikap yang semestinya dalam masalah ini ialah menetapkan sesuai dengan zhohirnya tanpa mengubahnya. Karena Allah ‘Azza wa Jalla telah menurunkan Al-Qur`ân dengan bahasa Arab yang mubîn dan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallâm berbicara dengan bahasa Arab. Maka wajib menetapkan kalamullah dan dan kalam rasul-Nya sesuai dengan bahasa Arab karena mengubahnya dari zhohirnya merupakan perkataan tetang Allah tanpa ilmu dan ini haram hukumnya, sebagaimana dalam firman-Nya:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنزلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah, "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) kalian mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (QS Al-‘Arôf [7]: 33)

Contoh hal itu dalam firman-Nya,

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

(Tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” (QS Al-Mâ`idah [5]: 64)

Maka zhohir pada ayat di atas menyatakan bahwasanya Allah baginya dua tangan secara hakiki maka wajib menetapkan hal itu untuk-Nya. Jadi, jika ada yang mengatakan yang dimaksud ‘kedua tangan’ itu ialah Al-Quwwah (kekuasaan), kita katakan kepada mereka, ini memalingkan kalamullah dari zhohirnya maka tidak boleh mengatakan ‘kedua tangan’ itu ialah kekuasaan karena hal tersebut perkataan tentang Allah tanpa ilmu.

KAIDAH KEDUA
Kaidah yang terkait dengan asma Allah ada empat cabang:

Pertama: Semua asma Allah itu husna yakni yang benar-benar sempurna lagi agung dalam kebaikan. Karena di dalamnya mengandung sifat yang sempurna tidak ada kekurangan di dalamnya dari segala sisi, sebagaimana Allah Ta’âla berfirman,

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى

Dan bagi Allah lah nama-nama yang husna itu.” (QS Al-‘Arôf [7]: 180)

Contoh: Ar-Rohman ialah salah satu nama dari nama-nama yang dimiliki Allah Ta’âla. Nama ini menunjukkan atas sifat yang agung yaitu Ar-Rohmatul Wâsi’ah (kasih sayang Allah yang luas, mencakup seluruh makhluk-Nya yang mukmin maupun kafir).

Sedangkan Ad-Dahr bukanlah nama dari nama-nama Allah. Karena tidak mengandung makna yang sampai kepada kesempurnaan. Adapun sabda Nabi-Nya shollallahu ‘alaihi wa sallâm: “Janganlah kalian mencela Ad-Dahr karena Allah adalah Ad-Dahr.” (Shahih. HR Muslim).

Maka yang dimaksud Ad-Dahr pada sabda tersebut ialah Pemilik Masa dan Pengaturnya. Hal ini dikuatkan dengan sabda Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallâm pada riwayat yang kedua dari Allah Ta’âla: “Ditangan-Ku lah segala urusan. Aku membolak-balikkan malam dan siang.” (Shahih. HR Al-Bukhori dan Muslim).

Kedua: Asma Allah tidak dibatasi dengan bilangan tertentu, sebagaimana dalam sabda Rasullah shollallahu ‘alaihi wa sallâm dalam hadits yang masyhur: “Aku meminta kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki yang Engkau gunakan untuk-Mu, atau yang Engkau turunkan di kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan di ilmu ghoib di sisi-Mu.” (Shahih. HR Ahmad)

Dan apa-apa yang dirahasiakan dalam ilmu ghoib di sisi-Nya tidak mungkin ada pembatasan dan diketahui jumlahnya.

Lalu bagaimana dengan hadits yang menyatakan bahwa Allah Ta’âla itu memiliki 99 nama?

Menjamak antara hadits di atas dengan hadits shohih lainnya yang menyatakan: “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama. Barangsiapa yang menjaga (atau menghitungnya) dia masuk surga.” Makna hadits ini tidaklah dimaksudkan sebagai pembatasan asma-Nya dengan bilangan tertentu. Ini sama saja dengan kamu mengatakan, ‘aku memiliki 100 dirham yang telah aku siapkan untuk sedekah’, hal ini bukanlah menafikan pada dirimu dirham yang lain yang kamu miliki, yang kamu siapkan untuk selain sedekah.

Ketiga: Asma Allah Ta’âla itu tidaklah ditetapkan dengan akal akan tetapi ditetapkan dengan syar’i. Hal ini ialah masalah tauqîfiyyah (harus ada dalil dalam menetapkannya). Maka harus menetapkannya sesuai dengan syar’i, tidak boleh menambahnya dan tidak boleh menguranginya. Karena akal itu tidak mampu menjangkau apa-apa yang hak untuk-Nya Ta’âla dari nama-nama-Nya. Maka wajib berhenti dalam perkara itu di atas dalil syar’i.

Karena menamai-Nya dengan nama yang Allah tidak namakan dengannya atau mengingkari setiap nama yang Allah tetapkan untuk diri-Nya merupakan pelanggaran terhadap hak-Nya. Maka wajib memiliki adab yang baik dalam masalah ini.

Keempat: Setiap nama dari nama-nama-Nya menunjukkan atas (1) Dzat Allah, (2) sifat-Nya yang terkandung di dalam nama tersebut, dan (3) pengaruh yang timbul atasnya jika muta’adiyan. Maka tidak sempurna keimanan dengan nama-Nya kecuali telah menetapkan semuanya itu.

Misalnya yang ghoirul muta’adiy: Al-‘Azhîm. Maka tidak sempurna keimanan dengannya sampai mengimani dengan menetapkan nama dari nama-nama Allah yang menunjukkan Dzat-Nya Ta’âla dan atas apa-apa yang terkandung dari sifat-Nya yakni Al-‘Azhimah (Keagungan).

Contoh lain yang al-muta’adiy: Ar-Rohman. Maka tidak sempurna keimanan dengannya sampai mengimani dengan menetapkan nama dari nama-nama Allah yang menunjukkan atas Dzat-Nya Ta’âla dan atas apa-apa yang terkandung dari sifat-Nya yakni Ar-Rohmah dan atas apa-apa yang timbul dari pengaruhnya yakni Allah merahmati siapa yang dikehendaki-Nya.

KAIDAH KETIGA
Kaidah yang terkait dengan sifat Allah ada empat empat cabang juga:

Pertama: Sifat Allah semuanya ‘ulyâ (tinggi lagi agung), sifat-sifat-Nya sempurna dan terpuji. Tidak ada kekurangan di dalamnya dari segala sisi. Seperti Al-Hayâh (Maha Hidup), Al-‘Ilm (Maha Mengilmui Sesuatu), Al-Qudroh (Maha Berkehendak), As-Sama’ (Maha Mendengar), Al-Bashor (Maha Melihat), Al-Hikmah (Maha Bijaksana), Ar-Rohmah (Maha Pengasih), Al-‘Uluw (Maha Tinggi), dan selainnya. Sebagaimana firman-Nya,

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الأعْلَى 

Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi.” (QS An-Nahl [16]: 60)

Karena Allah itu Maha Sempurna maka wajib sempurna juga sifat-sifat-Nya.

Jika ada sifat yang memiliki kekurangan, tidak sempurna di dalamya, maka ini terlarang untuk disematkan kepada-Nya. Seperti Al-Maut (mati), Al-Jahl (bodoh), Al-‘Ajaz (lemah), Ash-Shomam (tuli), Al-‘Amâ (buta), dan selainya. Karena Allah Subhânahu wa Ta’âla membantah sifat-sifat tersebut bagi diri-Nya (kenapa?) karena adanya kekurangan pada sifat-sifat itu dan Dia menyucikan diri-Nya dari setiap sifat-sifat yang memiliki kekurangan tersebut. Karena Ar-Robb (yakni Allah Ta’âla) tidak mungkin memiliki sifat yang kurang, yang justru (ika hal itu ada) akan menafikan kerububiyyahan-Nya.

Dan jika ada sifat yang sempurna pada satu sisi sedangkan ada kekurangan pada sisi lainnya tidak boleh menetapkannya untuk Allah dan tidak boleh pula menafikannya secara mutlak, akan tetapi harus dirinci. Contoh hal ini misalnya Al-Makr, Al-Kayd, Al-Khidâ (semua maknanya adalah tipu daya), dan selainnya. Sifat-sifat ini menunjukkan kesempurnaan jika dipakai dalam konteks yang sama yakni membalas tipu daya yang serupa.

Allah Ta’âla berfirman,

وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allaôh sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS Al-Anfal [8]: 30)

إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا وَأَكِيدُ كَيْدًا

Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.” (QS Ath-Thôriq [86]: 15-16)

إِنَّ الْمُنافِقِينَ يُخادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خادِعُهُمْ

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.” (QS An-Nisâ [4]: 142)

Maka jika dikatakan kepadamu misalnya, apakah kita menyifatkan Allah dengan Al-Makr? Jangan jawab iya dan jangan jawab juga tidak. Akan tetapi kita jawab Dia membuat makar kepada orang-orang yang pantas mendapatkannya. Wallahu a’lam.

Kedua: Sifat Allah terbagi menjadi dua yakni tsubûtiyyah dan salbiyyah.

Tsubûtiyyah adalah setiap sifat yang ditetapkan Allah untuk diri-Nya. Seperti Al-Hayâh (Maha Hidup), Al-‘Ilm (Maha Mengilmui Sesuatu), dan Al-Qudroh (Maha Berkehendak). Wajib menetapkannya untuk Allah di mana hal ini menunjukkan keagungan-Nya yang sesuai untuk-Nya. Karena Allah menetapkannya dan Dia Maha Mengetahui dengan sifat-sifat-Nya.

Salbiyyah adalah setiap sifat yang dinafikan Allah dari diri-Nya. Seperti Adz-Dzulm (zholim). Maka wajib menafikannya dari Allah. Karena Allah menafikannya dari diri-Nya, (bersamaan dengan ini) wajib menetapkan lawan dari sifat tersebut bagi Allah untuk menunjukkan kesempurnaan-Nya. Sebab penafian itu tidaklah sempurna sampai menyatakan penetapannya.

Misalnya, Allah Ta’âla berfirman,

وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan Robbmu tidak berbuat zholim kepada seorang pun.” (QS Al-Kahfi [18]: 49)

Maka wajib menafikan sifat zholim dari Allah bersamaan dengan itu menetapkan sifat Al-‘Adl (Maha Adil) bagi Allah yang menunjukkan kesempurnaan-Nya.

Ketiga: Sifat tsubûtiyyah terbagi menjadi dua yakni dzatiyyah dan fi’liyyah

Dzatiyyah adalah sifat yang senantiasa terus-menerus ada pada diri-Nya seperti As-Sam’i (Maha Mendengar) dan Al-Bashor (Maha Melihat).

Fi’liyyah adalah sifat yang terkait dengan kehendak-Nya. Jika Dia berkehendak, Dia melakukannya. Jika Dia berkehendak, Dia tidak melakukannya. Seperti istiwâ di atas ‘Arsy dan Al-Majî (sifat datang).

Dan terkadang sifat dzatiyyah dan fi’liyyah ditinjau dari dua sisi seperti Al-Kalâm. Tinjauan pertama, dilihat asalnya, bahwa Al-Kalâm merupakan sifat dzatiyyah karena sifat tersebut senantiasa terus-menerus ada pada Allah Ta’âla dan tinjauan kedua dilihat berdasakan peristiwanya, maka Al-Kalâm sifat fi’liyyah karena Al-Kalâm terikat dengan kehendak-Nya, Allah mengajak berbicara kepada yang dikehendaki-Nya kapan saja Dia berkehendak.

Keempat: Setiap sifat dari sifat-sifat Allah dapat diajukan atasnya tiga pertanyaan.

Pertanyaan pertama: Apakah sifat Allah itu hakiki (mengandung makna sebenarnya) dan mengapa?
Pertanyaan kedua: Apakah boleh takyif (ditanyakan bentuknya) dan mengapa?
Pertanyaan ketiga: Apakah sifat-sifat-Nya serupa dengan makhluk-Nya dan mengapa?

Maka jawaban untuk pertanyaan yang pertama ialah iya, sifat-sifat Allah itu hakiki karena asal Al-Kalâm itu hakiki, maka tidaklah menetapkannya kecuali dengan dalil yang shahih yang menerangkan hal itu.

Jawaban pertanyaan kedua ialah tidak boleh takyif. Allah Ta’âla berfirman,

وَلا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

Sedangkan ilmu mereka tidak meliputi ilmu-Nya.” (QS Thôha [20]: 110)

Karena akal tidak dapat menjangkau kaifiyyah sifat Allah ‘Azza wa Jalla.

Adapun jawaban untuk pertanyaan ketiga ialah tidak boleh menyerupakan sifat-sifat-Nya dengan makhluk-Nya karena Allah Ta’âla berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (QS Asy-Syûro [42]: 11)

Karena Allah lebih berhak atas kesempurnaan, tidak ada yang sempurna di atas-Nya, dan tidak mungkin diserupakan dengan makhluk-Nya karena jika diserupakan berarti menunjukkan kekurangan.

Perbedaan antara At-Tamsîl dengan At-Takyîf ialah At-Tamsîl menyebutkan kaifiyyah sifat yang dikaitkan dengan penyerupaan dengan makhluk-Nya, sedangkan At-Takyîf menyebutkan kaifiyyah sifat tidak dikaitkan dengan penyerupaan dengan makhluk-Nya. Contoh At-Tamsîl ialah ada seseorang yang mengatakan: Tangan Allah seperti tangan manusia. Dan contoh At-Takyîf ialah membayangkan secara pasti bagaimana tangan Allah. Maka tidak boleh menyerupakan tangan Allah dengan tangan makhluk, tidak boleh membayangkan seperti ini.

KAIDAH KEEMPAT
Bagaimana membantah Al-Mu’athillah?

Al-Mu’athillah adalah orang-orang yang mengingkari sesuatu dari asma Allah atau sifat-Nya dan memalingkan nash Al-Qur`an dan As-Sunnah dari zhohirnya dan mereka disebut juga Al-Mu’awwilah. Kaidah secara umum untuk membantah pendapat mereka ialah (1) bahwa pendapat mereka itu bertentangan dengan zhohir nash Al-Qur`an dan As-Sunnah, (2) pendapat mereka itu menyelisihi metodenya Para Salafush Sholih, dan (3) pendapat mereka itu tidak ada atasnya dalil yang shahih.

Sumber: Syarh Lum’atul I’tiqôd Al-Hâdîy ilâ Sabîlir Rosyâd. Penerbit Mu`asasah Ar-risalah dan Maktabah Ar-Rosyd.
Dialihbahasakan secara bebas oleh Abu ‘Aashim Doudou. 12 Muharrom 1440.

Posting Komentar

0 Komentar