Berkata Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah,

“’Ibadallah! Sesungguhnya bulan Ramadhan telah bersiap meningggalkan kita, tidak ada yang tersisa kecuali sedikit darinya. Maka, barangsiapa di antara kalian melakukan hal yang terbaik di dalam bukan Ramadhan, ia tinggal menyempurnakannya. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka akhirilah dengan kebaikan, sebab suatu amalan itu tergantung kepada akhirnya.

Manfaatkanlah hari yang tersisa dari bulan ini, pada malam serta hari yang hanya tinggal seberapa, titipkan padanya dengan melakukan amalan saleh yang akan menjadi saksi bagi kalian di sisi Allah Yang Mahatahu, dan tinggalkanlah ia dengan salam perpisahan yang terindah.

Salam dari Ar-Rahman pada setiap zaman.

Atas sebaik-baik bulan yang hendak berlalu.

Salam atas bulan di mana puasa dilakukan.

Sungguh ia adalah bulan yang penuh rasa aman dari Ar-Rahman.

Jika hari-hari berlalu tak terasakan.

Sungguh kesedihan hati untuk tak pernah hilang.

Hari-harinya telah berlalu, begitu pula dengan ketaatan yang telah kalian kerjakan. Dosa karena kesia-siaan yang kalian lakukan padanya telah tercatat, seakan-akan kalian adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh pada bulan itu. Padahal, orang lain sudah sampai di tujuan, sedangkan kalian terputus di tegah jalan. Apakah kalian merasakan teguran ini?!

Hati orang-orang yang bertakwa akan merindukan bulan ini dan merintih kesakitan akibat perpisahan dengannya. Bagaimana air mata orang mukmin tidak menangis karena ditinggalkannya, sementara ia tidak mengetahui apakah masih ada usia untuk kembali bertemu dengannya?

Di manakah semangat orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah di siang harinya,

dan manakah kebingungan orang-orang yang bertahajjud pada malam harinya?

Jika seperti ini kesedihan orang-orang yang beruntung di dalamnya,

maka bagaimana keadaan orang-orang yang merugi pada hari-hari dan malamnya?

Adakah manfaat dari tangisan orang-orang yang melalaikan kebaikan pada bulan Ramadhan ini sementara musibah dan kerugiannya telah menggunung?

Betapa banyak orang yang diberikan nasehat, tetapi ia tidak mau mendengarkannya. Betapa sering seseorang diajak untuk melakukan kebaikan, tetapi ia tidak mau menurutinya. Betapa banyak orang yang diajak untuk menjalin silaturahmi, tetapi ia tidak mau melaksanakannya. Betapa banyak kelompok orang yang berlalu melewati bulan Ramadhan, sementara ia tetap diam duduk terpaku. Hingga waktu telah menyempit dan kesedihan telah meliputinya ia menyesal atas kelalaiannya, padahal penyesalannya itu tidak lagi berguna, kemudian ia berusaha untuk menyusul pada waktu yang sudah tidak ada lagi.

Ya Syahru Ramadhan!

Sungguh engkau telah melimpahkan kasih sayang,

orang-orang yang mencintaimu berurai air mata,

hati mereka teriris karena sakitnya perpisahan.

Semoga renungan untuk perpisahan ini bisa memadamkan apa yang terbakar oleh api kerinduan. Semoga saat taubat dan pelepasan diri dari dosa dapat menambal lubang-lubang yang terjadi pada ibadah puasa. Semoga orang-orang yang terputus dan tertinggal dari rombongan orang-orang yang diterima amalnya mampu untuk menyusulnya. Semoga belenggu dosa dan kesalaha bisa terlepaskan. Dan semoga orang yang seharusnya masuk neraka dapat dibebaskan, dan semoga rahmat Allah atas pelaku maksiat bisa dirasakan.” [Selesai]

Di penghujung akhir Ramadhan 1439,

Al-Faqir ilallah doudou_id

Diringkas dari Lathâiful Ma’ârif, karya Al-Haifzh Ibnu Rajab al-Hanbali. Penerbit Dar Ibnu Katsir, Beirut. Hal. 386-388.